Saling Berbohong

5/27/2018 05:44:00 PM

Saat mata ini terbuka dari tidurku yang mengerikan, sebuah rasa bahagia meluap-luap, memenuhi seluruh tubuhku.
Aku seperti tersengat ribuan volt energi positif yang membuatku melompat dari tempat tidur. Hap!
"Kau senang sekali hari ini Ali?" kata teman sekamarku.
"Hari ini ayah akan datang!" jawabku dengan riang. Sebuah hari yang telah aku tunggu berabad-abad lamanya.
Aku segera membersihkan diri. Memakai baju terbaik. Mencoba tampil setampan mungkin seperti seorang pria yang akan bertemu calon mertua.
Aku juga melatih senyumku, gerakan tanganku, langkahku, "semua harus terlihat sempurna!" batinku dalam hati.
Detik berganti menit berganti jam. "Agh..kenapa waktu berjalan amat lambat!" aku tidak sabar menunggu Ayah.
"Ali, giliranmu," Ujar seorang bapak tambun dengan wajah datar.
Aku melompat mendengar namaku disebut. Berlari kecil menuju ayah. Pada detik-detik ini, rasanya air mataku ingin tumpah. Rindu ini telah bertumpuk sebesar gunung.
Sekuat tenaga ku tahan air mata ini. Sungguh menyebalkan, di saat genting seperti ini kenapa sih tak mau berkompromi sedikit.
"Ali! Assalamualaikum!" sapa Ayah di depanku.
"Waalaikumsalam Ayah!" balasku dengan senyum terindah yang bisa ku berikan.
Detik selanjutnya bisa dipastikan, kami akan bertukar cerita tentang hari-hari yang kami lewati.
Ku analisis baik-baik kondisi Ayah lewat bahasa verbalnya. Rambutnya memutih semakin cepat. Ayah pasti stress berat di rumah. Keriputnya juga semakin banyak. Beberapa kali ku lihat mulut ayah tertarik ke bawah. Ayah pasti juga menahan tangis.
Like father like son!
"Kabar baik Ayah, aku selalu dapat nilai tertinggi dalam pelajaran." pamerku pada Ayah.
Cara ini selalu berhasil membuat senyum tersungging pada wajahnya.
Aku berbohong.
Aku tak mampu belajar baik, seminggu lalu sipir penjara kembali datang menginterogasi. Mereka menuduhku menikam seorang turis. Tuduhan tak berdasar!
Mereka menghantamku dengan selongsong besi berkali-kali. Padahal luka akibat timah panas yang menembus betisku pekan lalu masih belum pulih. Aku lumpuh 3 hari. Badanku tak bisa digerakan. Boro-boro dapat nilai tertinggi, datang ke sekolah di penjara pun tak bisa.
"Ulang tahunku kemarin juga menyenangkan. Teman-teman sekamar berkumpul, saling bertukar cerita lucu, dan mendoakan." lanjutku lagi.
"Berapa umurmu sekarang nak?" sahut Ayah.
"15 tahun Ayah, sebentar lagi aku cukup dewasa untuk bergabung dalam brigadir Al Qasam!" jawabku dengan memberatkan suara, sambil membusungkan dada, sok gagah.
Ayah tertawa lagi. "Berhasil lagi!"batinku.
Aku berbohong.
Teman sekamarku tak ada yang ingat hari ulang tahunku. Belasan anak dalam sepetak ruang kecil nan sesak. Dalam siksaan fisik dan psikis yang kami alami bersama. Ada yang menangis, meringkuk, gemetar, terdiam dengan tatapan nanar, berteriak, bahkan meregang nyawa di depan mataku.
Kalian tahu? berkata jujur hanya akan menambah beban Ayah yang telah kehilangan satu persatu anaknya
Aku tahu Ayah berbohong atas kebahagiaanya di rumah. Aku juga tahu Ayah mengetahui kebohonganku. Tapi ini satu-satunya cara membahagiakan kami: saling berbohong.
Kematianku di penjara Israel ini bisa terjadi kapan pun. Mungkin besok, lusa, atau mereka akan menyekapku seumur hidup di sini.
Aku juga tahu, Ayah bisa mati kapan pun di luar sana. Hujan rudal Israel tinggal menunggu waktu menghantam Ayah pada malam hari.
Kami lalu saling mengingatkan, untuk memanggil nama satu sama lain di akhirat kelak.
"Kalau Ayah duluan syahid, Ayah harus panggil namaku nanti di Surga ya. Atau jangan-jangan...aku yang akan memanggil Ayah?" ujarku berkelakar.
Ayah tertawa lagi.
Ku pandang lekat-lekat gurat keriput Ayah di mata dan pipinya saat ia tertawa. Samar, di antara kaca tebal kelabu yang membatasi kami.
diadaptasi dari:
dipersembahkan untuk @smart_171

You Might Also Like

0 komentar

Instagram