Mengapa Linggarjati Tinggal Sejarah, Oslo Semakin Bermasalah?

5/27/2018 05:45:00 PM

Kalau kita perhatikan banyak kesamaan antara Perjanjian Linggarjati dan Oslo. Indonesia dan Palestina sama sama punya pengalaman pahit dibohongi "Perjanjian Damai" atau mari kita artikan "Perjanjian Penjahahan" .
Nama perjanjian ini sama-sama diambil dari tempat bermulanya sebuah kesepakatan. Linggarjati di Kuningan, Jawa Barat, dan Oslo, di Norwegia (lalu ditandatangani di Washington DC, Amerika)
Pelakunya sama sama negara penjajah, tukang rampas tanah air orang. Linggarjati melibatkan Belanda-Indonesia "ditengahi" Inggris. Oslo melibatkan Palestine Liberation Organization (PLO) - Israel, "ditengahi" oleh Bill Clinton, Amerika.
Perjanjian ini pun sama sama merugikan dan merampas negara jajahan. Indonesia harus menerima, negaranya yang semula terbentang dari Sabang sampai Merauke, jadi tinggal Sumatera, Jawa, dan Madura. Palestina yang semula utuh, jadi tinggal Gaza dan Tepi Barat.
Perjanjian ini pun sama-sama menuai kecaman. Linggarjati dikecam keras oleh Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata. Oslo tak kalah dikecam keras oleh Hamas.
Kecamannnya sama sama bernada, bahwa perjanjian tersebut bukti kelemahan kedaulatan dan keutuhan negara. Bahwa perjanjian tersebut hanya akal-akalan penjajah agar tetap kokoh merampok negara.
Perjanjian ini pun sama sama dilanggar pembuat perjanjian. "Dia yang berjanji, dia yang mengingkari". Perjanjian Linggarjati batal, karena agresi Belanda.
Oslo juga jelas dilanggar oleh Israel yang memblokade Gaza, perumahan ilegal Israel, yang menggerogoti Tepi Barat. Juga tentu saja, berdirinya Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem.
Bedanya, perkara Linggarjati telah usai, karena Indonesia telah merdeka lewat pertempuran bambu runcing yang dihunus dengan pekikan takbir.
Sedangkan Oslo semakin getir, walau rakyat Palestina juga telah bertempur dengan batu, yang melesat (juga) dengan pekikan takbir.
Mengapa Indonesia bisa, sedangkan Palestina belum juga merdeka?
Padahal Indonesia dan Palestina, sama sama menghadapi negara adikuasa. Sama-sama bertempur dengan senjata sederhana dibalut patriotisme, melawan senjata canggih seperti, tank, dan rudal.
Harusnya Palestina punya kesempatan yang sama untuk merdeka seperti Indonesia.
Tapi toh nyatanya, sampai hari ini penjajahan di Palestina justru semakin pelik. Silahkan Anda analisis dan simpulkan sendiri jawabannya.
Namun yang pasti, kita semua tahu bahwa masa kejayaan dan kehancuran ada dalam genggaman-Nya. Masalah Palestina hari ini bukan sekedar masalah dua negara yang bersengketa. Ini semua tentang kita.
Tentang siapa manusia yang mau mengirimkan bantuan kemanusiaan, menolong anak-anak Gaza yang kelaparan.
Tentang siapa manusia yang mau maju menggempur blokade Gaza. Beradu gas air mata, dan dihujani selongsong peluru tentara Israel.
Tentang siapa manusia yang murka dengan hati yang luka, melihat kondisi AlAqsa hari ini, yang terancam eksistensinya.
Tentang siapa manusia yang selalu melesatkan doa-doanya ke langit, teriring air mata penuh harap, demi selamatnya tanah suci.
"Dan masa kejayaan dan kehancuran itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim." (QS.3:140)
Perganjian Linggarjati memang tinggal sejarah. Namun, Perjanjian Oslo yang semakin bermasalah jadi cara-Nya menyeleksi orang yang mengaku beriman.
Jadi cara-Nya berjumpa dengan pemilik hati-hati yang tenang. Mereka yang gugur sebagai syuhada.
Apakah itu kita?


FQ.
Ditulis setelah main ke Gedung Perjanjian Linggarjati, Kuningan, dan membaca berita ini:
https://www.haaretz.com/…/u-s-envoy-to-israel-receives-pict

You Might Also Like

0 komentar

Instagram