Pecinta Ulung

2/13/2018 11:26:00 AM

"nit, titip Gazi sebentar aku mau Duha dulu," ujar kak Afnan sambil menyodorkan bayinya.
Sambil menghisap jari, bayi itu tersenyum. Ia menggerak-gerakkan kakinya lincah macem renang gaya kodok.

Manusia mungil berusia tujuh bulan yang sangat aktif. Merangkak ke sana ke mari. Masalah terbesar baginya ialah mengeksploari temuan-temuan baru setiap hari.

Dengan mimik mukanya yang kebingungan, macem orang dewasa menghadapi masalah pelik, Gazi menarik-narik kabel, meremas kertas, memukul-mukul tempat makan, mengguling-gulingkan botol minum, atau menggigit-gigit jaket.

Sambil berteriak, "ta ta ta taa!!" lalu cengar cengir menunjukkan senyuman ompongnya.

Gazi tak bisa ditinggal karena ia tak takut apapun. Ya, tak punya rasa takut adalah sebuah kelemahan. Ia bisa saja terjungkal ke belakang, kepentok siku tembok, tersengat listrik, tergores paku yang menonjol di bawah meja, atau memakan benda yang kotor.

Bank otaknya belum sebanyak itu, untuk menciptakan sebuah mekanisme rasa takut.
Maka, jadi tugas sang penjaga bayi yang tak boleh lengah sedikit pun.

Saat Gazi bermain di dekat tembok, tanganku harus selalu siap sedia di belakang kepalanya agar ia tidak terpentok.

Saat Gazi merangkak di bawah kursi, tanganku harus selalu siap sedia menutupi paku yang menonjol atau benda-benda berhaya yang dapat menggores kulitnya.

Mataku harus selalu awas melihat tingkah polanya. Apakah duduknya sudah seimbang? akan kah ia akan terjungkal? akan kah ia nyusruk dari ketinggian? apa yang ia masukan ke dalam mulutnya?

Penjagaan total setiap detiknya, tanpa ia sadari bahwa dirinya sedang dijaga. Bahwa dalam setiap keberhasilan eksplorasi, ada orang yang selalu mengawasi dan mem-back-up aktivitasnya.
Bahwa, berkali-kali ia terhidar dari rasa sakit, tanpa tahu ada yang mengupayakannya.

Ah, mungkin ini miniatur super mikro, bagaimana kasih sayang Allah pada manusia.
Bagaimana Allah mengatur seluruh kemudahan dalam hidup kita. Pergantian siang malam, isi laut yang bisa kita nikmati, hujan yang menghidupkan bumi, bermacam hewan dan tumbuhan, hingga bintang gemintang. Semunya untuk kemudahan manusia.

Sedangkan kita? cuek saja menikmati segala kemudahan di tengah kesibukan yang melenakan. Tak sadar sedang disayang oleh yang Maha Penyayang.

Juga, tak terhitung banyaknya kita dihidarkan dari rasa sakit, tanpa sadar ada Dia yang selau mengupayakan. Ada Dia yang selalu awas tiap detiknya. Selalu mendengar, melihat, dan menjaga.

Sedangkan kita? Cuek saja menjalani kehidupan. Kalau berjalan normal katanya membosankan, saat sukses melupakan, saat jatuh menyalahkan. Padahal semuanya dalam pengawasan.

Sungguh Sang Pencinta ulung! Mencintai tanpa berharap balas. Bahkan tak disadari cinta-Nya pun, kasih sayangnya tak berkurang sedikit pun!

Kita? sapa yang tak berbalas saja langsung dongkol.

Maka tak perlu lah kau repot-repot mencari cinta yang sejati. Karena letaknya sungguh dekat sekali. Oh Engkau, ya Rahman, ya Rahim.

#PencintaUlung
FQ.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram