"Shawkat, Singa yang Terpenjara" Di Balik Layar

7/11/2017 06:15:00 AM

Istanbul, Turki akhir 2016 lalu. Aku masih ingat betul saat pertama kali melihat kakek renta ini.

Iya tengah duduk di kasur menunggu kedatangan kami. Aku datang berselempang kamera di bahu kanan, dan tripod di bahu kiri. Teh Imun, berkenalan menyapa ramah ke seluruh penghuni rumah.

"Kenalkan ini Ayah saya" kata brother Muhammad ramah mengenalkan narasumber kami hari itu.

Sejak pertama melihatnya, aku tahu benar orang ini menyimpan kisah yang sangat luar biasa. Kulitnya keriput, memiliki bercak-bercak coklat di sekujur tubuhnya. Matanya telah rabun, jalannya susah, jika berbicara suaranya bergetar.

Tapi kakek ini masih semangat dan ceria. "Umurku 86 tahun dan aku masih ingin menikah," ujarnya santai yang membuat seisi ruangan tertawa.

Aku menyiapkan perlengkapan shooting. Menyiapkan kamera, tripod, dan menyetting ruangan. Anak-anak dan cucu sang kakek ikut merapat meramaikan ruangan.

Namanya Shawkat. Ia sempat ketakutan melihat alat perekam kami yang sebesar batu bata. Kami semua kembali terbahak. "Ini alat perekam uncle, bukan bom." jelas teh imun sambil menahan tawa.

Untuk mewawancarainya kami harus berteriak-teriak agar terdengar di telinga kakek. Aku mati-matian menahan tawa di belakang kamera, baru kali ini liat wawancara kayak ngebentak-bentak narsum. Narsumnya kakek tua pula. Kurang ajar sekali

Perlahan-lahan cerita sang kakek mulai terkuak. Kadang kami tertawa, serius, menangis, kesal, semua berpadu dalam kisah hidupnya yang luar biasa.

Kisah remajanya sama sekali bukan tentang romansa cinta. Namun, aksi heroik bak film laga. Shawkat! Kakek 86 tahun ini dulunya bergirlya melawan tentara-tentara Israel. Berteman dengan senapan. Mengendap, memata-matai, berlari, menembak, berstrategi. Bertaruh nyawa mempertahkan desanya.

Kakek 86 tahun ini bangga sekali bisa mempersembahkan masa mudahnya untuk berjuang membela tanah suci umat Islam. Dan betapa ia sedih melihat kondisi negerinya saat ini yang semakin parah di bawah penjajahan Israel.

Ia tahu benar negerinya tidak baik-baik saja. Ia sangat ingin kembali, berjuang melawan kesewenang-wenangan. Ia ingin sekali mempersembahkan seluruh hidupnya hingga menemui syahid.

"Untuk apa aku di sini? Harusnya aku ada di sana!" ujar Shawkat mengutuki dirinya yang tak bisa berjuang seperti dulu. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar.

Ruangan senyap.

Kakek 86 tahun ini punya jiwa 20 tahun. Ia jiwa muda yang terperangkan dalam tubuh renta. Aku lihat singa dalam hatinya. Terpenjara, meraung-raung tak bisa keluar.

Uncle Shawkat mengajarkanku arti semangat.

Semangat bukan berasal dari tubuh yang sehat dan sempurna. Semangat juga bukan tentang impian yang rasanya sulit sekali dicapai.

Tapi semangat tentang hati. Hati yang selalu hidup dan bergerola. Meminta, berharap, merindu untuk bisa mempersembahkan yang terbaik untuk-Nya.


Belakangan ku lihat, Shawkat ikut berdemo menyuarakan rakyat Palestina yang mogok makan untuk menuntut keadilan. Shawkat amat kontras dengan para pemuda di sekitarnya dan matahari yang terik. Ia tetap berjuang di usia senja dengan caranya. Dengan apapun yang ia bisa.


Banyak pelajaran yang bisa kupetik dari seluruh hidupnya. Terima kasih uncle Shawkat!

#UntoldStory
#RevealTheHiddenTreasure
cc: @smart_171
smart171.org

You Might Also Like

0 komentar

Instagram