Ruang Sidang Mencekam

7/11/2017 06:12:00 AM

"Aku harus banding!" ucapku dalam hati berulang-ulang. Jelas-jelas aku kalah telak di persidangan ini. Saksi-saksi itu terlalu banyak berbicara!
Peluhku menetes deras. Jantungku berdegup tak karuan. Susah payah ku tahan agar aku tidak menangis. Aku panik! nasibku di ujung tanduk.
Bagaimana ini! "Yang Mulia, saya menjadi saksi kalau dia telah mencuri!" "Yang Mulia, saya menjadi saksi kalau dia telah berbohong, mencemarkan nama baik, dan menebarkan kebencian!" Para saksi berbicara lantang dan meyakinkan. "Kesalahannya amat banyak Yang Mulia, ia patut mendapatkan pasal berlapis!" tambah saksi lainnya.
Aku melotot memberikan kode agar mereka diam, tapi nihil. Tak berpengaruh sedikit pun. Mereka terus memberi kesaksian tanpa takut.
Air mataku meleleh.
Para saksi menyebalkan itu dulu adalah tanganku, kulitku, kakiku, dan semua anggota tubuhku.
Bagaimana bisa kalian mengkhianatiku saat ini. Aku menangis, menyesal, memohon ampun, tapi Yang Mulia tak bergeming.
Tuhan, Ruang sidang ini mencekam sekali.
Detik-detik keputusan pengadilan akan ditentukan. Timbangan amalku doyong ke kiri.
Ini buruk sekali!
Aku menelan ludah.
Lalu tiba-tiba.. .
.
"GUBRAK!"
.
.
Semua peserta sidang menoleh. Siapa itu yang lancang mendobrak pintu dengan amat kencang? "Tunggu Yang Mulia! Saya mengajukan banding!" ucapnya lantang.
Seorang pemuda tampan dengan pesona memancar nan menyejukkan tiba-tiba hadir ke tengah ruang sidang. Siapa gerangan kau mau membantuku, di saat sahabat terbaikku pun acuh sambil lalu. .
.
"Yang Mulia, dulu dia dunia adalah sahabatku. Sering membaca, menghafal, dan mempelajariku. Aku memohon agar ia diberikan pertolongan dan kemudahan saat melewati tiap tahap negeri akhirat!" paparnya mengajukan banding dengan jelas.
Air mataku mengalir deras.
Al Quran! Dia Al Quran yang dulu sering ku baca! Tak ku sangka dia akan jadi pembelaku hari ini.
Yang Mulia tersenyum.
O, Allah semudah ini nasibku berbalik. Lalu perlahan timbangan amalku bergerak perlahan ke arah kanan.
Aku menangis haru. Memeluk Al Quran erat. Berterima kasih berulang-ulang padanya dan pada Yang Mulia atas pertolongan yang mereka berikan.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram