Kau Jual Aku Beli

7/11/2017 06:13:00 AM

Singapura, 2017.
Aku gugup menunggu di ruang tengah. Mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan cepat, berulang kali melihat jam tangan, dan berulangkali mengusap peluh.
Saking gugupnya aku bisa mendengar degup jantungku sendiri.
Apakah keputusanku ke Singapuran benar? Ibu bilang tidak ada gunanya, entahlah, mungkin ada jalan lain.
"Ting nong!" bel rumah berbunyi. glek. Mereka datang!
Dengan sigap aku membuka pintu. "Assalamualaikum Toni!" Sapa orang di hadapanku ramah. Dari logatnya ku tahu orang ini tak terbiasa mengucap salam.
Seorang pria berumur 40 tahun. Berjas hitam, rambut klinis pomade, kulitnya putih, bersih, rapih, dan wangi.
Aku kembali menelan ludah melihat koper silver mengkilat yang ia bawa.
"Wa..alaikumsalam.." jawabku ragu.
"Kenalkan saya Lee. Saya ditugaskan bapak presiden untuk menemui Anda." Ucapnya ramah sambil menjulurkan tangan.
"Saya Toni," balasku. Kami berjabatan tangan. Genggamannya kuat sekali. "Ah, silahkan masuk." tambahku.
Kami duduk di ruang tengah.
"Bagaimana wanita tadi malam? Apakah kau menikmatinya?" tanya Lee dengan wajah nakal sambil menyeringai.
Sudah kuduga itu kirimannya. "Maaf saya tidak bermain dengan wanita, itu dilarang dalam agama saya." jawabku tegas.
Lee terbahak. "Tipe suami setia rupanya." balasnya santai.
Gila, orang macam apa yang ada di hadapanku ini.
"Baiklah aku langsung saja," Lee mengangkat kopernya ke atas meja. Membukanya dengan sidik jari.
Klik. Koper terbuka. Tumpukan dolar bersesakan memadati seisi koper.
"Jumlahnya 1 Triliun. Sisanya masih ada di bagasi mobilku." Ucapnya santai.
Wajahnya lalu berubah serius. Dengan tatapan tajam ia melanjutkan kalimatnya, "Syaratnya mudah, kau dengan ormas sok suci mu itu, jangan pernah mengusik pemimpin kami lagi."
Kakiku bergetar. SATU TRILIUN katanya! itu banyak sekali! Gaji seluruh hidupku kalau dikumpulkan tak kan pernah sebanyak itu.
Peluhku menetes deras. Bagaimana ini? Lidahku mendadak kelu. Aku menimbang-nimbang berbagai kemungkinan.
Ruangan lengang.
Suara degup jantung dan jarum jam dinding seakan memenuhi seisi ruangan.
"bagaimana?" tanya Lee menyeringai.
tik..tok..tik..tok..

***
Istanbul, 1896.
Pintu istana diketuk. Tiga orang berjas hitam masuk. Berjalan elegan menuju ke depan singgasana.
"Salam hormat yang mulia" ucap ketiganya sambil membungkukkan badan.
"Langsung saja apa yang kalian inginkan," Ucap sultan langsung pasang badan. Ia tahu benar latar belakang ketiga orang di depannya.
Mereka membalasnya dengan senyuman. "Sultan Abdul Hamid II, kami datang bersama kereta yang dipenuhi emas dan berlian. Jika kau mau, keabadian jabatan pun mampu kami penuhi.." kalimatnya manggantung.
Ruangan lengang, sultan menunggu.
"Jual lah tanah Palestina pada kami." ucapnya sambil tersenyum.
Seisi ruangan terkejut. Sultan menunduk dalam.

***

Makkah, 614
Berulangkali ia mengatur nafas di depan pintu. Bagaimana tidak gugup, dirinya dipercaya jadi perwakilan suku paling prestisius di negerinya.
Ia menghirup nafas dalam-dalam. Mengumpulkan kepercayaan diri bahwa ia penyair paling ulang seantero Arab.
"Tok..tok..tok.." Utbah bin Rabiah mengetuk pintu.
Tak lama berselang pintu terbuka. Seorang pemuda penuh cahaya dan bertabur gelar penuh gengsi, sekaligus paling buron seantero Arab berdiri di hadapannya.
"Silahkan masuk.." ucapnya Ramah.
Mereka duduk di ruang tamu.
"Langsung saja Muhammad, begini ya, jika kau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy.
Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu." ucap Utbah penuh percaya diri.
"Kami hanya minta satu hal, berhenti menyebarkan agama Islam, berhenti memporakporandakan agama nenek moyak kami!" intonasi Utbah meninggi.
Rasulullah terdiam beberapa saat. Menghela nafas dan berkata,
"Kau sudah selesai berbicaranya Utbah?" tanya Rasulullah.

***
"Ingin membeli tanah Palestina katanya? bah!' batin Sultan. Banginya ini tak masuk akal.
Matanya memerah, giginya bergemelutuk, darahnya naik. "Gila kau! Tanah Palestina dibebaskan dengan darah dan perjuangan umat Islam. Aku tak sudi menjualnya padamu! Bawa pulang kembali seluruh hartamu, aku tak butuh!" Sultan Muntab.
Suasana mendadak tegang. Tiga bos besar Zionis gagal total. Tatapan ramahnya berganti tajam dan menyeramkan.
"Sultan ini harus dihancurkan." batinnya dalam hati.

***
"Bismillahirrahmanirrahim, Hamiim.." Rasulullah menjawab dengan kalimat paling agung.
Utbah bergetar mendengarkannya. Betapa syair yang biasa ia buat tak ada seujung kukunya. Manusia macam apa ini! Di hatinya sama sekali tak terbersit keinginan akan harta dan wanita.
"Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (QS. Fushshilat : 1-13)
"Hentikan! Hentikan!" Utbah kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
Ia ketakutan.
Kakinya gemetaran. Mukanya pucat pasi.

***
Tik..tok..tik..tok
Tawaran 1 triliun ini sulit sekali ditolak. Terbayang anak-anakku yang tengah mengejar pendidikannya di luar negeri. Ibuku yang sakit keras. Istriku yang selalu mengeluh kekurangan uang belanja, dan kebutuhan lainnya berkecamuk dalam kepalaku.
Ah, persetan dengan idealisme dan keimanan. Hidup ini harus realistis! Semoga Tuhan akan memaafkanku nanti.
Aku tidak percaya dengan apa yang ku lakukan. Aku murah sekali. Bahkan harga imanku tak ada seujung kuku pun dari solat dua rokaat sebelum subuh.
Ah masa bodoh. Batinku sambil membayangkan kekayaan tak terbatas.
Aku tersenyum. Menyodorkan tangan sambil berkata,
"setuju!"



FQ.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram