Monster

2/12/2017 01:37:00 PM

"Kau tahu di planet ini banyak sekali monster!" ujar Mei sambil menyedot orange float pesanannya.
Mataku masih sembab. Satu jam lalu aku puas menangis di depan Mei. Bercerita tentang menyebalkannya penjahat hati, yang aku malas menyebutkan namanya.
Lalu sekarang ia malah membahas tentang monster. Memang dia kira aku anak kecil. "Kalau mau membahas film action kesukaanmu, aku tidak tertarik." balasku dingin.
Ia tertawa hampir tersedak. "Aku serius April. Kau percaya tidak di bumi ini banyak monster?"
Aku melengos. Lalu menyantap roti bakar coklat yang kupesan.
"Monsternya menyamar April," Mei berbisik.
"Kalau dia muncul dalam wujud aslinya, besar, berlendir, bertaring, bermata merah, punya cakar tajam sepanjang 10 cm, bau mulut naga, niscaya semua manusia akan menghabisinya tanpa ampun. Dibakar, ditusuk, diarak keliling kampung!" Papar Mei semangat.
Aku sedang berduka. Mei malah mengarang cerita fiksi dengan semangat. apa apaan dia!
"Monster ini menyamar menjadi rupawan. Ia bisa menjadi lelaki perlente berjas, bersepatu mengkilat, menaiki limosin. atau menjadi wanita cantik, bergaun bak putri raja, dengan rambut indah berkilau."
Mei mendekatkan wajahnya padaku. Kemudian berbisik. "Bisa jadi ia ada di sekitar sini April." Lalu terseyum menyebalkan.
"Monster itu punya misi sejak bumi ini terbentuk. Ia akan menyesatkan semua manusia untuk menemaninya ke neraka. Ngoahaha!" Mei tertawa berat, menirukan suara tawa penjahat penjahat kacangan di sinetron.
Aku panik. "Hey, hey, hentikan Mei. Semua orang melihat ke arah kita." ucapku sambil menutup mulut Mei.
Mei dengan cepat menebas tanganku. Lalu melanjutkan ceritanya.
"Caranya cerdas sekali April. Bukan dengan tiba-tiba muncul lalu menyeret nyeret penduduk bumi." kalimatnya menggantung.
Ia celingak celinguk, ke kanan dan ke kiri. Seperti mencari sesuatu.
"Ah, kau lihat wanita yang berdiri di tengah karpet itu? Caranya amat perlahan April. Monster itu akan menggulung karpetnya pelan-pelan hingga ke tengah. Setahap demi setahap. Hap! Lalu dengan cepat menangkap wanita itu. Rawr!"
Kali ini Mei berlagak seperti singa yang mengaum sambil menunjukkan cakarnya.
"Sudah cukup Mei! Sebenarnya kau mau bilang apa!" Aku muntab.
Mei tertawa. "Masa kau tidak bisa menangkap maksudku April. Ah dasar payah!" Mei menyedot habis semua minumannya.
Sekarang dia malah mengejekku. Menyebalkan.
"Begini ya April. Kasus cowok menyebalkanmu itu bukan baru terjadi kemarin. Aku sudah memperingatkanmu sejak 6 bulan lalu. ENAM BULAN!" Nadanya meninggi, sambil menunjukkan 5 jari di tangan kanan dan jempol di tangan kiri.
"Lalu kau bilang, tidak Mei aku hanya berteman di instagram, tidak Mei aku hanya chatting di Line, tidak Mei aku hanya makan siang bersama, dan seterusnya hingga sekarang hatimu hancur lebur." lanjut Mei dengan mulut meletot jelek, memperagakan aku berbicara dahulu.
"Dosa itu tidak bisa langsung besar April. Ia dimulai dari kecil. Seperti mengambil botol di tengah karpet. Setan akan menggulungnya secara perlahan hingga ke tengah. Meruntuhkan semua prinsipmu perlahan-lahan hingga BOOM!" Papar Mei dengan cepat dan emosi.
Aku tersudut. Oh tidak, semua kata-kata Mei benar.
Kami saling diam selama beberapa detik. Air mataku membendung di pelupuk.
Mei tersenyum kemudian, "Tak apa April. Jangan kau gugurkan bayimu. Rawat ia dengan baik. Kembalilah, Allah suka sekali hambanya yang bertaubat. Masih ada waktu." Ucapnya lembut, sambil menggenggam erat tanganku.
Tangisanku pecah lagi.
Ya Allah aku ingin kembali. Aku ingin kedamaian hati seperti dulu lagi.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram