Menerima Lalu Bahagia

2/12/2017 01:36:00 PM

"Ayah terlalu cepat!" teriak sang anak berlari sekuat tenaga mengejar sang Ayah. Yang dikejar tak mengurangi sedikit pun kecepatannya. Malah tertawa tawa geli.

"Ayo nak, kalau kau tidak cepat, kau hanya dapat jatah pizza sepotong!" balas sang Ayah.

"Ayah curang, langkah ayah besar dan cepat!" lobi sang anak sambil terengah-engah berlari. Keringat mengucur deras. Napasnya tersengal. Tapi semangatnya tak surut walau sejengkal. Ia terus berlari.

Diam diam sang Ayah mengurangi kecepatannya.

"Sebentar lagi! Hampir tersusul!" tekad sang anak dalam hati. Matanya fokus hanya melihat lawan. Lomba lari terus berlangsung. Melihat jarak yang semakin tipis, sang anak makin bernafsu untuk mengalahkan Ayah.

"YEEE AKU MENAANG!"

teriak sang anak kegirangan sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Dalam imajinasinya, ia seakan berlari memutus pita garis finish, lalu disambut guyuran pita warna warni dan bunga bunga, sambil diiringi lagu "We are The Champion".

Sang Ayah tersenyum bahagia melihatnya. "Kau makin cepat nak!" ucap Ayah sambil mengacak ngacak rambut sang anak.

"Kita bagi sama rata pizza untukmu." ujar sang Ayah menepati janji.

Mereka berdua tiba di sebuah restoran Pizza paling terkenal di ibu kota. Jangan bayangkan tempat duduk empuk, pramusaji yang ramah, atau pendingin ruangan yang sejuk.
Mereka tiba di pembuangan akhir makanan dari restoran tersebut. Sebuah petak berukuran 2x2 meter, dengan dinding rendah. Dipenuhi sisa makanan dan minuman yang tak habis dari pengunjung.
O..Lihatlah sang Ayah. Dengan baju kumal, robek-robek di bagian bawah dan leher. Celananya dua per tiga, tak kalah kumal. Rambutnya sudah tak jelas, hampir gimbal. Sudah lupa kapan terakhir mandi. Telapak kakinya pecah pecah, beralaskan sendal jepit yang hampir habis alasnya karena berjalan puluhan kilo meter setiap harinya.
O.. Lihatlah sang Anak. Tak jauh berbeda dengan Ayah. Dengan rambut kemerahan, muka kusam, baju dan celana kumal, beralaskan sendal jepit bergambar pahlawan bertopeng, hadiah Ayah. Umurnya baru lima tahun. Tapi ia akrab sekali dengan kerasnya jalan Ibu kota.
Di tengah kemacetan, sumpah serapah supir bus, dan keluh kesah pengguna jalan siang itu, sepertinya mereka berdua lah yang paling bahagia.
Lihat lah sekarang, mereka makan pizza dengan lahapnya. Bonus Garlic Bread dan Spicy Wings yang mereka temukan di sela sela kardus pizza. Lalu minum dari botol air mineral sekali teguk.
"Bagaimana mungkin mereka tidak menghabiskan makanan seenak ini yah?" ucap sang anak dengan mulut penuh makanan.
"Mungkin mereka ingin menyisakannya untuk kita nak," jawab ayah sambil berkelakar.
Makan siang mewah itu selesai. "Ayo cepat habiskan. Setelah ini kita cari sampah plastik lagi." ucap ayah sambil tersenyum
"Siap ayah!" seru sang Anak sambil mengepalkan tangan tinggi-tinggi ke udara.
****
Lembayung kemerahan mewarnai langit ibu kota. Matahari kembali ke peraduan. Langit yang kemerahan berangsung-angsur menghitam. Berganti semarak lampu-lampu kendaraan, jalan, dan gedung-gedung pencakar langit. Jalanan protokol ibu kota macet dipenuhi pengguna jalan yang pulang kerja.
Riuh suara klakson dan sumpah serapah supir bus masih menjadi simfoni ibu kota.
"Aku sudah melihat laporan akhir tahun yang kau kirimkan." ujar Hendri lewat telepon pintar teranyar.
Hendri ialah salah satu korban kemacetan Ibu kota malam itu. Ia seorang CEO, 47 tahun, memimpin perusahaan multinasional ternama, dengan tiga digid gaji setiap bulannya.
Di dalam sedan mewah berharga milyaran rupiah, ia menyelesaikan urusan bisnisnya yang belum selesai di kantor.
"Kau gila ya! Tahun ini keuntungan kita turun 200 miliar! peringkat perusahaan jatuh ke 20 besar." Hendri mencak mencak di kursi belakang. Mukanya memerah. uratnya bermunculan di leher dan dahi.
Sang supir diam-diam menguping. Ia tersenyum.
"Sudah ku bilang kebijakanmu keliru. Kau tidak mau dengar. Besok bawa surat pengunduran diri ke kantor saya!"
klik. Hendri menutup telepon secara sepihak. Ia kesal bukan main.
Sang supir dengan hati-hati melirik kondisi sang Bos lewat spion tengah. Hendri bersender sambil melihat jendela. Keningnya masih berkerut-kerut tanda kesal. Kemewahan mobil seharga milyaran rupiah tak mampu membuat Hendri merasa nyaman.
Ia tahu bosnya sedang mengalami masa-masa sulit akhir akhir ini. Kemarin, anaknya ketahuan membeli sepaket sabu. Hubungan dengan istrinya juga sedang tidak harmonis.
Mobil tak bergerak. Jalanan macet total. Klakson mobil semakin ramai.
Sang bos melihat ke jalanan. Sang supir ikut melihat hal yang sama.
O..lihatlah, sebuah pemandangan yang tak biasa. Seorang ayah dan anak umur lima tahun tidur diemperan sebuah toko yang sudah tutup.
Tanpa alas apapun, tapi terlihat nyenyak bukan main. Lelah membuat mereka tertidur amat pulas. Tak mendengar desing klakson dan keramaian jalanan ibu kota. Hari itu mereka berdua berhasil mengumpulkan banyak sekali sampah plastik.
Hendri tertegun. "Bagaimana mungkin mereka bisa tidur dipinggir jalan?" ucapnya dalam hati keheranan.
"Pulas sekali ya pak," ujar sang Supir memecah keheningan.
yang diajak ngobrol hanya menoleh sebentar lalu kembali melihat jendela.
"Bisa jadi orang orang seperti mereka lah yang paling bahagia pak," lanjut sang Supir
Lipatan di dahi bos bertambah "Kenapa?" akhirnya sang Bos menyahut.
"Lihat mereka, tidur pulas dengan nyaman, damai, tentram, tanpa takut kehilangan apapun. Ah, wuenak tenan pokoknya" jawab sang Supir dengan logat jawanya.
Sang Bos tersenyum kecil.
"Coba hitung, Ada berapa satpam yang berjaga di rumah bapak? butuh berapa pil tidur tiap malam agar nyenyak? makin kaya, makin banyak yang harus dipikiran." lanjut sang Supir.
Hendri terkekeh, "kau benar, pikiran ini membuatku gila. Jadi menurutmu bagaimana cara agar bahagia huh?"
"Gampang pak!" seru sang Supir sambil tersenyum.
"Menerima." kalimatnya menggantung.
"Menerima?" Hendri belum mengerti.
"Mereka yang paling menerima adalah yang paling bahagia. Lihat mereka, menerima garis hidupnya walau berada di hampir rantai paling bawah ibu kota." papar sang Supir.
Hendri diam mendengarkan.
"Orang yang tak bisa menerima bisa berakhir gila. Menerima berarti mampu berdamai dengan peliknya hidup, memeluknya erat-erat, lalu perlahan menyembuhkan hatinya. Dari kelabu jadi bahagia."
"Selalu ada hal yang tak berjalan dengan apa yang kita usahakan pak. Kata guru ngaji saya, Manusia yang merencanakan, Allah yang menentukan." Dengan hati-hati ia melirik sang Bos. Takut ucapannya membuat keadaan makin runyam.
Hendri masih termenung. Selama ini hidup dalam gelimang harta, tapi tak mampu membuatnya bahagia. Ia selalu menuntut kesempurnaan hidup, tapi tak pernah bisa. Sekarang ia tahu jawabannya.
Menerima. Sesederhana itu.
"Kau benar. Pintar juga kau hah." akhirnya sang Bos menanggapi.
Sang Supir tertawa, "Siang tadi saya dengar itu di radio pak, hehe" jawabnya.
"Belok kanan pak. Kita makan malam dulu, saya sudah lapar." perintah Sang Bos.
"Siaap paak" jawab sang supir kegirangan. Malam itu kerutan di kening Hendri sempurna menghilang. Senyum melengkuh indah di wajahnya.
Malam itu ia belajar: Menerima lalu bahagia.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram