Generasi Melow

2/12/2017 01:38:00 PM

Hari ini kita hidup dalam budaya melow, entah siapa dan kapan dimulai. Peraturan dan istilah-istilah baru bermunculan dan menjadi sesutu yang wajar.

Kosa kata seperti, pacaran, gebetan, CLBK, PDKT, malam-mingguan, hingga "taarufan" menjadi sesuatu yang biasa. Peraturan tidak tertulis, seperti orang yang memilih tidak pacaran jadi sasaran bully. Jomblo adalah status yang menyedihkan, hina, dan tidak laku.

Kapan ini semua bermula? Kalau Sabtu dan Minggu bisa berbicara, mungkin ia benci dijadikan ikon untuk pacaran.
Beberapa waktu lalu aku diminta mengisi acara. Temanya "First Love", pesertanya remaja SMA. --Yaampun kenapa aku? lama-lama aku bisa jadi dokter cinta, wkwk-- 

Yah pasti tau lah arah pembicaraannya ke mana. Masa-masa SMA emang paling rawan sama cinta-cintaan.
Setelah itu riset kecil-kecilan agar bisa nyambung sama mereka. Berhubung aku paling bodoh sama dunia hiburan. Di kosan ga ada tv, di rumah paling nonton Doraemon, wkwk... Aku nanya sama adik-adik tentang sinetron yang sedang laku saat ini.

Satu-satunya yang aku tahu hanyalah "Boy mati" udah, wkwk 

Lalu adik adik menceritakannya dengan menggebu-gebu. Lengkap dari awal hingga akhir. Tentang Boy, Reva, Adriana, geng Serigala, Kobra, sampe putri duyung! 

Dan kesimpulanku satu: Sinetron di tv bahaya banget buat generasi muda!
Banyak agenda terselubung yang menyebalkan. Seperti Boy yang digambarkan sebagai anak baik, suka solat, penurut sama orang tua, tapi pacaran dan kebut-kebutan di jalan.
ini akan memunculkan persepsi, "oh gak papa pacaran dan kebut-kebutan, asal tetep solat dan sayang sama orang tua." Juga budaya melow yang amat kental. Visualisasinya amat jelas. Saling tatap menatap, meraung-raung karena putus cinta, mesam mesem karena abis nembak cewek. Dan adegan ini gak hanya dilakukan sama Boy yang sudah kepala dua, tapi anak SMP di sinetron lain.
Aku kesel banget. "Yaampun jahat banget! jahat!" ujarku menanggapi. Tak seharusnya industri media mencekoki rakyat Indonesia dengan asupan rendah semacam ini.
Menyebalkannya, sinetron-sinetron ini amat digandrungi. Menjadi perbincangannya ibu-ibu saat berkumpul, bahkan anak usia tujuh tahun.
Sinetron jenis ini bukan sesuatu yang baru. Tapi sejak puluhan tahun lalu rakyat Indonesia sudah dicekoki romansa percintaan oleh TV. Terinternalisasi ke alam bawah sadar.
Dari jumlah 240 juta populasi di Indonesia, Nielsen mensurvei masyarakat urban di 10 kota besar (Jakarta,Surabaya, Medan, Semarang, Denpasar, Bandung, Makassar, Palembang Yogyakarta dan Banjarmasin), ternyata 94% diantaranya meluangkan waktu sekitar lima setengah jam per hari untuk menonton TV. Dan program yg paling diminati ialah sinetron, sebanyak 24%. Ditambah 92.8% penduduk Indonesia tidak berpendidikan tinggi. Daya filter akan sangat minim. Bukan tidak mungkin mereka akan menelan mentah-mentah semua yang ada di TV.
Industri sinetron menjamur. Mereka mandi uang, masyarakat yang jadi korban.
Jangan-jangan ada upaya hegemoni untuk menciptakan generasi melow. Pemuda Indonesia dibuat sibuk mikirin perasaannya sendiri. Sibuk mikirin cara deketin atau nembak cewek. Galau-galau karena diputusin, dan kesibukan tidak produktif lainnya.
Hal yang lebih berbahaya lainnya muncul. 93% remaja pernah ciuman dan oral sex. 62% remaja SMP sudah tidak perawan. 21% remaja SMA pernah aborsi. 97% remaja pernah nonton film porno. (dilansir dari Komnas Perlindungan Anak)
Ancur banget!
Padahal mereka yang akan meneruskan negara ini kelak. Coba bayangkan?! Bentangan kualitas pemuda abad ke-21dan pemuda abad ke-6 dan 7 amat jauh.
Kita tahu Aisyah remaja pasti sedang belajar, mengkaji, dan menghafal ribuan hadis. Kita tahu Usamah, di usia yang belum genap 20 sudah memimpin ribuan pasukan untuk menaklukkan Palestina. Kita tahu, Muhammad Al-Fatih remaja sedang belajar Fiqh, bahasa, strategi militer, dan berlatih bela diri.
Kita tahu banyak sekali ilmuwan muslim yang menghasilkan banyak karya untuk peradaban. Kedokteran, kimia, astronomi, matematika, ilmu bumi, dan banyak lagi.
Prestasi gemilang semacam itu tak akan hadir, jika masa mudanya dihabiskan untuk galau-galau cinta.
Jadi ingat pernyataan, William Ewart Gladstone, 1809-1898, mantan Perdana Menteri Inggris. “Percuma kita memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad dari pada seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks”
Buat yang gak percaya konspirasi, pasti menganggap hal ini lebay. Tapi percayalah ini sungguh terjadi.
Ada upaya besar-besaran, profesional, rapih, terorganisasi, untuk menjauhkan pemuda dari Al Quran.
Salah satunya dari sinetron macem Boy tadi. Masih ada musik, film, majalah, novel, dan banyak lagi. Diserang dari berbagai sisi!
Jangan mau jadi generasi melow. Dunia terlalu keras kalau modal masa mudamu hanya cinta-cintaan. Apalagi akhirat 
Ciptakan sesuatu, dekat dengan Allah, dan berkarya lah!
-Salam dokter cinta
FQ.
wkwkwkwk geliii


You Might Also Like

0 komentar

Instagram