212

2/12/2017 01:23:00 PM

Langit Jakarta jadi saksi bisu milyaran cerita yang pernah terjadi di ibu kota.

Aku bersama 60 rombongan bus akhirnya tiba di Jakarta. Di sambut gedung gedung pencakar langit, dan mall megah Ibu Kota.

Ah, Jakarta ku. Kota dengan mall terbanyak se-Asia. Kota kebanggan, tempat 70 persen perputaran ekonomi Indonesia berada. Ketimpangan jelas di depan mata. Baru saja memandangi barisan gedung-gedung mengkilap, harus ku susuri jalan-jalan kecil, kotor, kumuh, dengan anak-anak kumal yang sudah bekerja.

Kota ini sudah padat. Namun, hari ini harus lebih padat lagi. Dari 9 juta rakyat yang menghuninya, hari ini ada 4 juta manusia yang berkumpul di pusat kota. Menyemut dari berbagai penjuru Indonesia.
Kota paling macet di dunia ini, jadi lebih macet lagi hari ini. Tapi tak mengapa. Toh, langit Jakarta punya cerita paling indah nan romantis hari ini.

Hati siapa yang tak luluh, jika 4 juta manusia berkumpul bersama untuk mengagungkan dan menjunjung tinggi asma-Nya.

Kata mereka ada hubungannya dengan politik Pilkada DKI Jakarta.
Masa iya?

Hingga mampu membuat ribuan santri Ciamis jalan kaki untuk ikut aksi ini? Ratusan ribu massa dari luar pulau Jawa merapat? Hingga mampu memenuhi lapangan monas sampai Jalan Thamrin?

Rasanya tidak masuk akal.

Satu-satunya alasan logis ialah rasa cinta dan sikap nyata bahwa umat Islam akan selalu membela dan mengangkat tinggi AlQuran melebihi apapun.

Tak rela AlQuran diolok-olok Ahok. Tak rela ibu kota dikuasai 9 naga rakasasa yang ada di belakangnya.

Hari ini untaian dzikir, salawat, ayat-ayat Al-Quran, dan doa-doa mengalun indah dari 4 juta manusia. Melayang layang di serap langit ibu kota.

Malaikat menaungi. Awan berarak di atas langit Monas. Gerimis syahdu, angin lembut menyapa, hingga hujan yang turun saat azan Salat Jumat dikumandangkan.

Keberkahan menyelimuti Jakarta hari ini. Isak tangis dan harapan 4 juta kaum muslimin mengiringi doa untuk negeri ini.

Agar banyaknya umat muslim saat ini tak hanya sekedar buih. Agar tiap muslim sadar, yang paling banyak harus dibenahi, tak lain dan tak bukan adalah diri sendiri.


-Jakarta, 2/12
usai aksi Super Damai

You Might Also Like

0 komentar

Instagram